| | Sun CLOSED | Layanan 24 jam Aitam - 085729209555 / 082243448222

Kartini dan Kecintaannya Akan Ilmu dan Islam

download (3)
0

Minggu, 21 April 2019 kemarin seolah mengingatkan telah kembali mengingatkan kita akan sosok wanita cantik, anggun, tangguh dan pemberani dalam memperjuangkan hak-hak wanita terutama dalam memperoleh pendidikan, dan ia tak lain adalah Raden Ajeng Kartini.

Meskipun Kartini terlahir sebagai perempuan dari kalangan bangsawan, yang kental dengan budaya patrilineal, hidupnya pun tidak lepas dari tantangan. Kartini muda dilarang keras untuk melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orang tuanya. Akan tetapi Kartini tidak menyerah begitu saja, segera ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku-buku ilmu pengetahuan lainnya untuk dibaca, dikaji dan dipelajari di taman rumah dengan ditemani pembantunya. Bahkan lebih dari itu, Kartini sangat peduli dengan kaum perempuan dengan berbagi ilmu kepada mereka, dengan penuh kesabaran dan ketekunan.

“Kartini muda saat itu, yang sangat mungkin saat itu memilih hidup berfoya-foya bersenang-senang dalam kehidupan yang cukup, namun justru beliau manfaatkan kebangsawanannya untuk menggali ilmu pengetahuan yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.”

Sampai pada suatu ketika, berkat kegigihannya dan dukungan suami tercinta, beliau berhasil mendirikan sekolah-sekolah di berbagai tempat, seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan lain-lain, yang terkenal nama “Sekolah Kartini.” Inilah inspirasi besar yang harus menjadi motivasi bagi bangsa Indonesia. Mendirikan sekolah pada zaman itu (hari lahir Kartini 1879) pasti banyak keterbatasan dan minim daya dukung, dibanding zaman sekarang, namun semuanya tidak menyurutkan Kartini untuk berjuang meningkatkan harkat kaumnya. Di sinilah pentingnya mencari pasangan yang serasi dalam mencapai cita-cita mulia. Tentu dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih awal memberi contoh kepada kita, dengan memilih Khodijah sebagai istrinya, beliau sangat terdukung dalam perjuangannya dalam memperbaiki umat walaupun mendapat tantangan yang luar biasa dari kaumnya.

Kartini bukan hanya wanita yang mencintai ilmu pengetahuan saja, tetapi sejatinya ia adalah seorang wanita yang gigih dalam mempelajari agamanya ditengah sulitnya mencari informasi pada saat itu.

Islam mulai mewarnai kehidupan Kartini ketika ia mengikuti pengajian Kyai Sholeh Darat di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.

Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah. Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.

“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya.

“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Alquran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran  adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Setelah pertemuan itu, Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz. Sebanyak 13 juz terjemahan diberikan sebagai hadiah perkawinan Kartini. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai manusia.

Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikut, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Pemikiran-pemikiran Kartini

Sungguh Kartini dalam zamannya yang masih dalam penjajahan Belanda sudah memiliki pemikiran-pemikiran yang cemerlang dalam mengubah kualitas bangsanya. Adapun pemikiran-pemikiran Kartini yang harus diingat oleh bangsa saat ini adalah sebagai berikut;

  1. Masyarakat harus melek ilmu pengetahuan, kejarlah walaupun jauh, raihlah walaupun sangat sulit.

Kalau saja Kartini menyerah oleh tantangan yang ada saat itu, sungguh sangat dimaklumi oleh sejarah. Kartini adalah sosok wanita yang cenderung dianggap lemah dan harus tunduk kepada keadaan. Penjajahan Belanda saat itu yang selalu membatasi masyarakat untuk mengakses ilmu, ilmu pengetahuan khusus bagi kalangan ningrat saja. Adat Jawa yang juga berperan membatasi gerak wanita, bahkan ayah Kartini sendiri sebenarnya ikut berperan membatasi gerak Kartini muda saat itu. Namun inilah sosok kepahlawanan Kartini, yang tidak mau menyerah oleh keadaan, demi meraih ilmu pengetahuan.

  1. Masyarakat harus melek Al-Quran

Sebagai seorang wanita muslimah, Kartini sangat menyayangkan kondisi kehidupan masyarakat pada zamannya yang hanya fokus kepada interaksi Al-Quran pada sisi membaca dan menghafal. Al-Quran adalah kitab hidayah yang berisi ilmu pengetahuan, maka jika tidak dikaji dengan baik dan terus menerus, maka Al-Quran tidak akan kelihatan sisi hidayahnya sebagai sumber ilmu pengetahuan yang hakiki dan pasti, karena semua yang ada dalam Al-Quran adalah keniscayaan dan tidak ada keraguan di dalamnya. Adat inilah yang juga tidak luput dari perhatian Kartini dalam masa hidupnya. Tampaknya kondisi ini masih harus menjadi perhatian kita bersama di era modern ini. Masih sangat banyak masyarakat kita yang belum melek Al-Quran.

  1. Masyarakat harus melek dan perhatian terhadap agama.

Agama menurut Kartini-karena beliau wanita muslimah, tentu yang dimaksud adalah agama Islam- sangat penting dalam mengawal kehidupan masyarakat. Masyarakat yang religius akan terjaga dari berbagai penyimpangan-penyimpangan seperti dosa kecil apa lagi dosa besar. Agama bagi manusia tidak akan tergantikan oleh pemikiran dan ajaran apapun, karena sumbernya dari Allah sebagai pencipta, maka dengan agama manusia tidak hanya diikat dengan suatu ajaran, namun juga diikat dengan pengatur kehidupan dan peletak aturannya. Dialah Allah Rabbul aalamin. Terutama suatu ketahanan keluarga mustahil diraih oleh manusia tanpa ikatan agama. Cinta saja, seperti yang dipahami oleh umumnya manusia, sangat tidak cukup untuk mempertahankan suatu keluarga, sebagaimana awal pembentukan keluarga dengan agama, yang disebut dengan akad nikah, maka proses pelaksanaannya pun mutlak harus dengan agama. Tanpa agama kehidupan keluarga dan lainnya tidak akan tegak dengan baik.

Itulah tokoh Kartini dengan karakternya yang teguh. Berkemauan kuat, tidak mudah putus asa dan yakin terhadap prinsip yang dinilainya benar. Kartini dan perkenalannya terhadap tafsir dan terjemah Al Qur’an memberi nilai tersendiri dalam cara Kartini melihat masalah. Ajaran Islam yang berbeda, meningkatkan nilai-nilai dalam konteks yang nyata dan kenyataan masyarakat saat itu.

Perlu kita ketahui juga bahwa telah banyak lahir sosok perempuan sebelum Kartini. Hanya saja, wanita-wanita yang dise­butkan di sini adalah berkebangsaan Arab. Berbeda dengan Kartini, wanita hebat dari Asia. Misalnya, Siti Khadijah, sosok perem­puan hebat plus pebisnis yang tangguh; Aisyah, seorang wanita yang pintar, tempat orang banyak bertanya hadis, ini dibuktikan dengan banyaknya hadits yang diriwayatkan dari beliau. Aisyah-lah yang menunjukkan kepada kita bahwa perempuan itu memang harus pintar; Islam tidak menghalangi kaum­ perempuan untuk menuntut ilmu.

Masih banyak perempuan hebat yang dilahirkan ke dunia ini. Termasuk Siti Mar-yam dengan ketabahannya dan Sumaiyah, seorang wanita pertama yang syahid di medan perang.

Kemudian sebagai ungkapan dan juga wujud dari rasa syukur kita mari kita buktikan dengan semangat belajar kita, semangat menghafal Al-Qur`an kita, semangat untuk membangun negeri ini, terus berkreasi, dan berkarya untuk orang lain agar tercapai tujuan hidup kita, yakni bermanfaat buat sebanyak-banyak ummat.

 (Diambil dari berbagai sumber)

 

 

 

Leave us a comment