| | Sun CLOSED | Layanan 24 jam Aitam - 085729209555 / 082243448222

Qurban, Tak Sebatas Menyembelih Hewan. Ini Makna Berkurban Sesungguhnya.

IMG-20190719-WA0000
0

Bulan Agustus 2019 nanti akan menjadi bulan istimewa bagi kita semua, bukan hanya karena perayaan kemerdekaan RI ke-74 nanti namun Agustus tahun ini juga spesial karena umat muslim akan merayakan hari raya Idul Adha. Dalam merayakan Idul Adha, biasanya terdapat pemotongan hewan kurban dari pekurban yang merasa dirinya mampu. Begitu pula ada yang melengkapi ibadahnya dengan berhaji ke tanah suci.

Idul Adha pada setiap tanggal 10 Dzulhijjah juga dikenal dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin yang sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena pada hari itu Allah memberi kesempatan kepada kita untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya.

Idul Adha juga dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari raya penyembelihan. Hal ini untuk memperingati ujian paling berat yang menimpa Nabi Ibrahim. Akibat dari kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” (kekasih Allah).

Ada nilai historis tentang cinta dan perjuangan seorang ayah kepada anaknya dalam Idul Adha. Saat Nabi Ibrahim AS mendapat wahyu untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail. Ibrahim dihadapkan pada pilihan untuk melaksanakan perintah Allah SWT atau mempertahankan anak yang dicintainya. Pilihan yang sangat dilematis. Namun, atas dasar taqwa dan cinta Allah SWT yang melebihi segalanya, Ibrahim siap tunaikan perintah menyembelih putranya sendiri. Hingga akhirnya, Ismail digantikan dengan seekor domba. Sungguh, qurban tak sebatas menyembelih hewan. Idul Adha, ber-qurban adalah simbol. Bahwa dalam hidup perlu timbal balik. Apa yang kamu berikan akan kembali, apa yang kamu tanam akan tumbuh, dan apa yang kamu korbankan akan berbuah.

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang paling besar dalam sejarah umat umat manusia itu membuat Ibrahim menjadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan mempunyai arti besar. Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail diatas, bagi kita harus dimaknai sebagai pesan simbolik agama, yang mengandung pembelajaran paling tidak pada tiga hal;

Pertama, ketakwaan. Pengertian taqwa terkait dengan ketaatan seorang hamba pada Sang Khalik dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Nya. Kesiapsediaan Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya atas perintah Allah menandakan tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim, sehingga tidak terjerumus dalam kehidupan hedonis sesaat yang sesat. Lalu dengan kuasa Allah ternyata yang disembelih bukan Ismail melainkan domba. Peristiwa ini pun mencerminkan Islam sangat menghargai nyawa dan kehidupan manusia, Islam menjunjung tinggi peradaban manusia.

Kedua, hubungan antar manusia. Ibadah-ibadah umat Islam yang diperintahkan Tuhan senantiasa mengandung dua aspek tak terpisahkan yakni kaitannya dengan hubungan kepada Allah (hablumminnalah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Kehidupan saling tolong menolong dan gotong royong dalam kebaikan merupakan ciri khas ajaran Islam. Hikmah yang dapat dipetik dalam konteks ini adalah seorang Muslim diingatkan untuk siap sedia berkurban demi kebahagiaan orang lain khususnya mereka yang kurang beruntung, waspada atas godaan dunia agar tidak terjerembab perilaku tidak terpuji seperti keserakahan, mementingkan diri sendiri, dan kelalaian dalam beribadah kepada sang Pencipta.

Ketiga, selalu mengharapkan ridho Allah dalam segala hal. Hikmah dari cerita Nabi Ibrahim adalah untuk meraih ridho Allah SWT dibutuhkan pengorbanan. Berkorban harus jadi sikap dasar manusia, yang diwujudkan dengan memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan. Menyembelih hewan Qurban lalu bagikan dagingnya kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Berkurban salah satunya merupakan jalan menuju surga. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak melakukan kurban. Allah akan menjamin umatNya ketika berkurban selagi tidak punya apa-apa. Melakukan kurban bukan karena kita mampu/kaya. Tanamkan dalam hati bahwa berkurban itu karena iman kita kepada Allah.

Persiapan bekal yang terbaik adalah takwa. dalam Al Quran Surah Ath-Thalaq ayat 2 – 3 disebutkan, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”.  Berkurban adalah salah satu cara menolong agamamu, maka Allah akan menolong kamu.

Salurkan kurban anda di Yayasan AITAM , setiap hewan qurban yang disalurkan melalui Aitam tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi anak-anak yatim saja, melainkan juga sebagai alat syiar/dakwah islamiyah di daerah-daerah minus qurban serta untuk menyediakan media pembelajaran bagi santri yatim Aitam berkaitan dengan usaha ternak dan penggemukan kambing.

Leave us a comment