Posted on Leave a comment

KAWANMU ADALAH CERMINAN DIRIMU

Dahulu mereka tidak saling mengenal, masing-masing menjalani hidup dengan bahagia dan penuh cinta dari kedua orang tua. Sampai pada suatu ketika takdir menjemput sang ayah untuk kembali kepada Allah dan kemudian mereka menjadi seorang yatim,  dan saat itulah mereka dipertemukan dan dipersatukan di Pesantren Aitam Indonesia. Pesantren gratis khusus yatim yang terletak di Jl. Solo-Semarang KM 4,2 Kalangan, Ngasem, Colomadu kabupaten  Karanganyar Jawa Tengah.

Awal jumpa tentu saja mereka saling merasa asing, tidak mudah untuk membaur  dan berinteraksi satu sama lain di tempat yang baru dan jauh dari keluarga. Tetapi rasa asing dan kesedihan karena harus berpisah dengan keluarga itu perlahan luntur seiring dengan bergantinya hari. Para musyrif dan musyrifah dengan ikhlas dan tulus berusaha untuk menguatkan hati anak-anak yatim tersebut. Dengan penuh kasih, kesabaran dan kreativitas para musyrif dan musyrifah memberikan pengertian dan mengajarkan tentang banyak hal, menyibukan mereka dengan berbagai kegiatan edukatif. Dimana hal tersebut sangat membantu anak-anak yatim tersebut dalam membangun komunikasi dan berinterkasi.

Sampai pada suatu ketika, perlahan mereka menyadari bahwa  dengan tinggal di pondok adalah keputusan terbaik. Bukan hanya sekedar meringankan beban ibu mereka, tetapi dengan menjadi santri di pondok mereka berkesempatan untuk lebih dalam lagi mempelajari agama tanpa kemudian mengabaikan ilmu pengetahuan lain yang diajarkan di bangku sekolah. Dengan menjadi santri di pondok mereka mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk membiasakan diri mengamalkan dan mengaplikasikan syari‘at islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dari  kesadaran akan hal tersebut,  kemudian lahirlah rasa nyaman untuk tinggal dan belajar di pondok. Sehingga para santri yatim tersebut tidak hanya bisa saling menghargai satu sama lain tetapi juga saling mencintai layaknya sebuah keluarga. Mereka bersahabat, saling menjaga dan saling mengingatkan. Meskipun  gesekan dan pertengkaran kecil antar santri kadang terjadi tetapi hal tersebut justru menjadi pelajaran berharga untuk kedewasaan mereka.

Kami berharap dengan menghimpun mereka dalam lingkungan pesantren yang dalam kesehariaannya sangat mengedepankan pengaplikasian aspek agamis, mereka anak-anak yatim dapat menemukan sahabat atau kawan yang terjaga akhlak dan agamanya. Sangat penting untuk bersikap selektif dalam memilih teman dekat atau sahabat, sebab teman kita adalah cerminan diri kita, tingkah laku atau akhlak kita akan sesuai dengan lingkungan dan kawan-kawan biasa kita bergaul. Ini sesuai dengan hadits nabi;

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seseorang itu mengikuti din (agama; tabiat; akhlaq) kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dia jadikan kawan dekat

 (HR. Abu Dâwud, no.4833;Tirmidzi, no.2378).

Dan juga dalam hadits lain:

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud no. 4833, Tirmidzi no. 2378,

dan Ahmad 2/344)

Al Ghozali rahimahullah mengatakan, “Bersahabat dan bergaul dengan orang-orang yang pelit, akan mengakibatkan kita tertular pelitnya. Sedangkan bersahabat dengan orang yang zuhud, membuat kita juga ikut zuhud dalam masalah dunia. Karena memang asalnya seseorang akan mencontoh teman dekatnya.” (Tuhfatul Ahwadzi, Abul ‘Ala Al Mubarakfuri, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut, 7/42).

Oleh karenanya mari kita lebih berhati-hati dalam memilih teman dan memilih komunitas. Pilihlah teman dan lingkungan yang akan membawa diri pada ketaatan menuju cinta dan ridho Allah azza wa jalla. Dan mari dukung program pengasuhan dan pendidikan anak-anak yatim di pesantren Aitam Indonesia. Sehingga para santri yatim Aitam bisa memperoleh pendidikan agama, akhlak dan ilmu pengetahuan terbaik. Dengan begitu  mereka memperoleh kesempatan untuk menjadi penghafal al qur’an dan mewujudkan mimpi-mimpi mulia untuk umat dan bangsa.

 

Dukungan infak untuk program pendidikan dan pelatihan skill santri yatim Aitam dapat disalurkan melalui:

BNI Syariah,a.n. Yayasan Aitam Indonesia

No Rek. 0289989661

BRI, a.n. Yayasan Aitam Indonesia

No Rek. 018201000798308

Call Centre ; 085101811199

 

 

Posted on Leave a comment

Setiap dari Kita Bisa Menjadi Pahlawan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya, seperti kata bapak proklamator kita Bung Karno “Negara Yang Besar Adalah Yang tidak melupakan Jas Merah” Artinya tidak akan melupakan sejarah suatu bangsa tersebut. Para pahlawan telah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini dengan segenab jiwa dan raga selama berpuluh-puluh dan bahkan beratus tahun. Dengan ksatria ribuan nyawa gugur demi tegaknya NKRI, demi mengibarkan merah putih, dan demi menjadikan pancasila serta undang-undang dasar 1945 sebagai landasan fundamental negara.

Perjuangan para pahlawan yang sedemikian besar itu, tidak selayaknya kita kenang dengan kegiatan seremonial semata. Tanpa kemudian menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan, untuk kemudian diambil dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.  Sebagai generasi muda, kita harus mampu memberi makna baru atas tonggak bersejarah kepahlawanan.

Tugas dan tanggung jawab kita sekarang adalah menjaga keutuhan bangsa dan negara kita dan mengisi kemerdekaan dengan membangun serta dapat mewarisi sikap-sikap para pahlawan. Yaitu pribadi yang berani membela kebenaran dan keadilan, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, jujur dan bertanggung jawab, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara/kepentingan umum,  memiliki rasa cinta tanah air dan pantang menyerah, serta memiliki jiwa pengabdian yang tinggi. Sehingga kita bisa menorehkan banyak prestasi, bukan semata-mata untuk mengharumkan nama bangsa tetapi lebih dari itu adalah untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu menjadi negara yang adil, makmur dan sejahtera.

Bentuk rasa terimakasih dan tanggung jawab kita dalam mengisi kemerdekaan ini bisa dimulai dari bidang yang kita sukai atau bidang dimana kita merasa memiliki kemampuan lebih disana.  Semisal dengan menjadi guru yang mendidik dan mengabdi dengan sepenuh hati,  meneruskan perjuangan Ki Hajar Dewantoro yang telah berjasa menjadi tokoh dalam bidang pendidikan untuk mendidik anak-anak bangsa dengan mendirikan sekolah Taman Siswa agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sejajar dengan bangsa lain di dunia. Atau menjadi penegak keadilan hak-hak wanita seperti RA. Kartini, dll

Jangan kotori tanah perjuangan ini dengan tindakan yang terpuji, seperti tawuran, memakai narkoba, minum-minuman keras, seks bebas, merendahkan saudara sendiri, bertindak tidak adil, korupsi dan lain-lain. Kita hidup pada zaman merdeka. Namun, perjuangan belum selesai. Mari menjadi generasi yang ksatria, bertanggung jawab, intelek dan religius, karena setiap dari kita bisa menjadi pahlawan.

Posted on Leave a comment

SABAR DALAM MENGHADAPI UJIAN DAN BERSYUKUR DALAM SETIAP KEADAAN

Bersabarlah KESALAHANMU SEDANG DIHAPUS,,,,,,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan dihapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Bukhari, no. 5660 dan Muslim, no. 2571)

Bersabarlah DOSAMU SEDANG DIAMPUNI,,,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang mukmin tertimpa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada masa depan), sedih (akan masa lalu), kesusahan hati (berduka cita) atau sesuatu yang menyakiti sampai pada duri yang menusuknya, itu semua akan menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573).

Bersabar dalam menghadapi ujian adalah pilihan terbaik, agar hati tetap merasa tenang dan pikiran tetap jernih. Sehingga mudah bagi seseorang untuk berikhtiar mencari solusi, dan mudah pula bagi seseorang untuk tetap bersyukur dalam setiap keadaan yang ia alami.

Karena sangat mungkin jika kesakitan, kesulitan dan kelelahan yang kita hadapi saat ini tidaklah lebih berat dari kesakitan, kesulitan dan juga kelelahan yang dihadapi saudara-saudara seiman kita di belahan bumi yang lain.

Kita bersyukur pagi ini masih dapat beraktivitas dengan lancar meskipun harus berdesak-desakan di angkutan umum saat berangkat ke sekolah atau ke kantor. Kita bersyukur masih bisa menikmati sarapan pagi meskipun dengan menu sederhana, karena sarapan tersebut dapat kita nikmati setiap pagi bersama keluarga. Kita bersyukur masih bisa berteduh dan beristirahat dengan tenang dan nyaman meskipun rumah kita sangat sederhana. Kita bersyukur meskipun harus berlelah-lelah dan kepanasan sepanjang hari untuk mencari rezeki halal untuk keluarga yang masih lengkap dan sehat yang sedang menunggu di rumah. Kita bersyukur masih diberi nikmat aman dari bencana dan perang sehingga aktivitas belajar, bekerja dan beribadah terasa lebih ringan, tenang dan nyaman.

Sekarang mari sejenak menengok saudara-saudara kita di Palu, Donggala, Sigi, Lombok, saudara-saudara kita di Palestina, Suriah. Betapa berat ujian yang mereka hadapi. Mereka bukan hanya kehilangan rumah atau harta benda lainnya, tetapi mereka juga kehilangan anggota keluarga. Mereka mengalami kesulitan untuk sekedar mendapatkan air bersih, aliran listrik, makanan. Hari-hari mereka dipenuhi dengan rasa khawatir akan ada gempa dan tsunami susulan. Hari-hari mereka dipenuhi dengan rasa takut dan kecemasan akan kemunculan bom-bom dan hujan peluru-peluru.

Saudaraku maka sesulit apapun keadaan kita sekarang bukankah kita masih beruntung jika dibandingkan dengan mereka? Allah Azza Wa Jalla bukan hanya masih memberi kita nikmat iman untuk beribadah kepadaNya. Tetapi Allah Azza Wa Jalla juga masih memberi kita nikmat sehat, nikmat keluarga yang utuh, nikmat tinggal di kota yang aman, aman dari bencana, aman dari pemberontakan.

Sabar, mari senantiasa kita bersabar untuk setiap keadaan yang mungkin dirasa sulit atau mengganggu hidup kita. Bukankah saat ujian, kesulitan dan kesakitan yang menghampiri kita itu adalah saat dosa kita diampuni? Itu adalah saat kesalahan-kesalahan kita dihapus?

Sabar, mari kita bersabar & mengharapkan pahala dari setiap ujian, kesulitan dan kesakitan, yang kita alami, baik itu ujian yang kecil atau besar. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur dan mengharapkan balasan pahala hingga musibah terkecil yang kita terima.

Posted on Leave a comment

Jika Orang Tua Shalih, Anak pun Shalih

Anak adalah anugerah terindah dari Allah Subhanallah wata’ala, sebab tidak semua orang tua beruntung bisa memiliki anak, sebagaimana firman Allah dalam surat Asy Syura ayat 49-50; Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Maka tidak berlebihan kiranya, jika penulis menyebut bahwa memiliki anak bukan hanya sebagai anugerah terindah melainkan juga rahmat yang  besar dari Allah. Sehingga tidak akan cukup jika hanya rasa cinta dan kasih sayang saja yang diberikan orang tua kepada anak sebagai ungkapan rasa syukurnya. Melainkan orang tua juga harus memberikan pendidikan, terutama pendidikan agama supaya anak senantiasa taat kepada Allah subhanallah wata’ala. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang baik.” (HR. Al Hakim: 7679).

Berbicara soal pendidikan anak, ini termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih. Abu al-Hamid al-Ghazali rahimahullah beliau berkata, anak merupakan amanat di tangan kedua orang tuanya dan qalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga dan murni yang belum dibentuk dan diukir. Dia menerima apa pun yang diukirkan padanya dan menyerap apa pun yang ditanamkan padanya. Jika dia dibiasakan dan dididik untuk melakukan kebaikan, niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan akhirat. Dan setiap orang yang mendidiknya, baik itu orang tua maupun para pendidiknya yang lain akan turut memperoleh pahala sebagaimana sang anak memperoleh pahala atas amalan kebaikan yang dilakukannya. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan serta ditelantarkan seperti hewan ternak, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa serta dosa yang diperbuatnya turut ditanggung oleh orang-orang yang berkewajiban mendidiknya”

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa akan menjadi seperti apa anak dimasa mendatang, apakah ia akan menjadi anak yang baik, anak yang jahat, anak yang tetap pada fitrahnya yaitu memegang agama yang lurus (islam), atau akan menjadi seorang yang meninggalkan fitrahnya, semua itu sangat bergantung pada bagaimana orang tuanya mendidik.

Dalam hal ini pepatah Arab mengatakan, “Bagaimana bisa bayangan itu lurus sementara bendanya bengkok?” dalam hal ini orang tua adalah bendanya sedangkan anak adalah bayangannya. Jika orang tua bengkok, maka anak pun akan bengkok dan rusak. Dan sebaliknya, jika orang tua lurus, maka insya Allah  anak akan lurus.

Jadi jika orang tua menginginkan anak-anaknya shalih maka orang tua harus shalih terlebih dahulu. Keshalihan orang tua akan memberikan manfaat positif bagi anak, keshalihan orang tua akan menjadi sumber yang baik dalam segala hal, baik itu dalam ibadah, bertutur kata, bersosialisasi dsb. Keshalihan orang tua juga akan melahirkan sikap sabar dalam mendidik anak, sehingga reaksi dan kata-kata negatif saat anak melakukan kesalahan atau kenakalan lebih bisa dihindari. Sikap tenang dan tutur kata yang lembut dari orang tua dalam menunjukkan kesalahan kepada anak, akan lebih bisa diterima dan dipahami.

Mulai dari sekarang mari kita jadikan diri kita sebagai pribadi yang baik, shalih, taat kepada Allah. Dengan harapan Allah akan menjadikan kita sebagai orang tua yang beruntung, yaitu memiliki anak-anak yang shalih, memiliki perangai yang baik dan selalu mendoakan orang tuanya. Anak yang shalih akan menjadi investasi pahala, sehingga orang tua akan mendapat aliran pahala dari anak shalih yang dimilikinya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631).

Posted on Leave a comment

Tawakal, Kelezatan & Kemanisan Iman

Sebagai manusia normal, memiliki mimpi, cita-cita dan tujuan dalam hidup merupakan hal yang lumrah. Bahkan demi mewujudkan mimpi atau cita-cita tersebut, manusia rela melakukan segalanya. Bekerja keras setiap hari, belajar hingga larut malam, kehilangan waktu berkumpul dan bersenang-senang dengan kawan, keluarga dan masih banyak lagi perjuangan yang dilakukan untuk mengubah sebuah mimpi menjadi kenyataan,  untuk bisa mencapai apa yang menjadi akhir tujuan hidupnya.

Tetapi kerja keras dan perjuangan sepenuh hati saja tidak cukup, terkadang duri, kerikil dan bahkan badai tidak bosan menghantam. Mematahkan semangat, memutuskan harapan. Maka sudah selayaknya manusia melengkapi ikhtiar atau usahanya dengan doa dan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Manusia tidak boleh lupa bahwa takdir hidupnya ada dalam genggaman dzat yang maha sempurna, yaitu Allah subhanahu wa ta‘ala yang kekuasaanNya meliputi seluruh alam semesta.

Doa adalah bentuk pengakuan akan betapa lemah dan tidak berdayanya manusia tanpa rahmat dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta‘ala. Sedangkan tawakal, yang artinya menyandarkan, memasrahkan seluruh urusan dan seluruh permasalahan dalam hidupnya kepada Allah setelah berikhtiar/berusaha sesuai syariat, menjadikan seseorang menjadi ridha dan ikhlas terhadap setiap ketentuan dan takdir Allah. Sehingga ia bisa merasakan kelezatan dan kemanisan iman sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam, “Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya” (HR Muslim)

Dalam dalam kitab “Fiqhul asma-il husna” bahwa Makna “ridha kepada Allah Ta’ala sebagai Rabb” adalah ridha kepada segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada apa yang diberikan dan dicegah-Nya. Inilah syarat untuk mencapai tingkatan ridha kepada-Nya sebagai Rabb secara utuh dan sepenuhnya

Dengan manusia ridha terhadap ketentuan Allah maka manusia juga akan terhindar dari rasa putus asa ketika ikhtiar dan doanya tidak kunjung dikabulkan. Dan yang tidak kalah penting adalah, tawakal menjadi sebab seorang hamba dicukupkan segala apa yang menjadi keperluannya, sebagaimana firman Allah dalam surat ath-Thalaaq:2-3:

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya

Allah subhanahu wa ta’ala itu “Al Aliim”, Maha Mengetahui. Allah yang paling tahu apa yang kita butuhkan dan Allah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita, sedangkan kita, manusia tidak mengetahuinya. Ini sesuai dengan firman Allah ; “…Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS Al-Baqarah: 216).

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membimbing dan memudahkan hati kita untuk senantiasa bertawakal kepadaNya, sehingga kita peroleh kebaikan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.


 

Posted on Leave a comment

Obat Keseedihan

Seperti apapun keadaan yang kita hadapi saat ini, kekalahan, kesedihan, musibah, kesulitan obatilah dengan selalu bersabar dan berhusnudzan kepada Allah. Meskipun tidak mudah, suatu hari nanti saat kita paham kita akan mengatakan itu nikmat, dengan syarat dalam keadaan apapun yang kita alami sekarang jangan pernah keluar dari jalur yang Allah ridhoi.

Allah ta’ala berfirman:
“Sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan serta kekurangan harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini berasal dari Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya.’ Mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan ucapan sholawat (pujian) dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh hidayah.” (QS Al Baqarah: 155-157)

Selamat berakhir pekan Sahabat Aitam… Barakallahufiikum…

Posted on Leave a comment

Zakat Maal dan Infak Pendidikan Untuk Anak Yatim

Pesantren Aitam Indonesia adalah pesantren tahfidzul Qur’an gratis khusus yatim dan dhuafa yang berpusat di Ngasem, Colomadu, Karanganyar. Saat ini di pesantren tersebut bermukim 58 anak yang terdiri dari 32 santri putra dan 26 santri putri usia SD-SMA yang bebas seluruh biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-harinya.

Untuk itu di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, mari tunaikan Zakat Maal dan infak anda untuk membantu biaya pendidikan anak yatim binaan Pesantren Aitam. Zakat yang anda salurkan dapat membantu mewujudkan mimpi dan cita-cita anak yatim hingga 12 bulan ke depan.

Salurkan zakat dan infak anda melalui rekening donasi:
BRI: 018201000798308 a.n Yayasan Aitam Indonesia Mandiri
Mandiri: 1380010216344 a.n Yayasan Aitam Indonesia

Kantor Pusat Yayasan Aitam Indonesia Mandiri
Kompleks Pesantren Aitam Indonesia
Jl. Solo-Semarang Km. 4,2 Dukuh Kalangan, Desa Ngasem, Kec. Colomadu, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah. Telp. 085101811199

Posted on Leave a comment

Bersegera dalam Kebaikan 

Di Bulan Ramadan yang penuh berkah ini, insya Allah semua amal kebaikan akan dilipatgandakan, termasuk bersedekah. Tentu saja dalam bersedekah dan melakukan amal-amal yang lainnya tak hanya semangat dan motivasi saja yang harus di tingkatkan, sebaiknya kita juga harus menjaga niatnya. Jaga keikhlasan dalam niat sedekah kita agar kita dapat memahami hakikat sedekah dan tidak menunda-nunda untuk melakukannya.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 133)
Dalam hal kebaikan secara umum, kita dianjurkan untuk bersegera atau berlomba-lomba. Apalagi dalam konteks bersedekah yang memiliki hubungan sosial dengan orang lain. Karenanya semakin cepat kita menyegerakan sedekah kita, akan semakin bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan.

Info Program Ramadan Aitam
1. Sedekah Ifthor dan Sahur untuk anak yatim
2. Kado Lebaran untuk anak yatim
3. Zakat maal untuk pendidikan anak yatim
4. Infak Pembangunan Gedung
5. Wakaf Tanah dan Wakaf Sumur Pesantren Yatim di Ngasem, Karanganyar dan Ngawen, Klaten
Informasi: 085101811199/085101980805

Posted on Leave a comment

Keberhasilan adalah Milik Perencana Terbaik

Bulan penuh berkah dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebentar lagi akan tiba, kesempatan ini tak mungkin kita sia-siakan begitu saja. Kesuksesan Ramadan berbanding lurus dengan persiapan amal dan ilmu yang kita miliki. Untuk itu, target dan jadwal khusus harus kita siapkan untuk memaksimalkan ibadah di Bulan Ramadan. Sudahkah Sahabat Aitam mempersiapkan diri menyambut bulan suci?

Yuukkk persiapkan Ramadan terbaikmu lebih dini… Download gratis Panduan Menghidupkan Ramadan disini:

Panduan Menghidupkan Ramadan

 

www.aitam-indonesia.or.id

Posted on Leave a comment

Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw

Perintah shalat wajib lima waktu diberikan Allah Swt pada Nabi Muhammad Saw saat perjalanan Isra Mi’raj.
Shalat menjadi satu ibadah yang istimewa bagi umat Islam yang nantinya akan menjadi amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.
Bagaimana dg shalat kita selama ini Sahabat? Apakah kita sudah menghadirkan Allah dalam setiap sujud kita? Atau hanya sekedar menggugurkan kewajiban?

www.aitam-indonesia.or.id

#selfreminder #aitamindonesia#pesantrenaitamindonesia #sholat #isramiraj#sholatjamaah #shalat #caringorphans